Monday, July 11, 2011

Scoliosis

The word scoliosis (say: sko-lee-oh-sis) comes from a Greek word meaning crooked. Someone with scoliosis may have a back / spine that curves like an "S" or a "C." While small curves generally do not cause problems, larger curves can cause discomfort. A curved spine gets worse as they grow and they may need a brace or an operation to correct it. About 3 out of every 100 people have some form of scoliosis. Most types of scoliosis are more common in girls than boys, and girls with scoliosis are more likely to need treatment.

Sometimes scoliosis will be easily noticeable. A curved spine can cause someone's body to tilt to the left or right. Many kids with scoliosis have one shoulder blade that's higher than the other or an uneven waist with a tendency to lean to one side. These problems may be noticed when a kid is trying on new clothes. If one pant leg is shorter than the other, a kid might have scoliosis. In the United States, about half of the states require public schools to test for scoliosis. It's an easy test called the forward-bending test, and it doesn't hurt at all.

A brace for scoliosis is meant to hold the spine in place so the curve doesn't get any worse. Braces are meant to be used while the spine is still growing, especially when it grows very fast during the "adolescent growth spurt." Therefore, a kid with scoliosis will spend less time in the brace as he or she gets older and gets closer to adult size. After the spine finishes growing, braces are no longer necessary or effective.

Sunday, July 3, 2011

How can eating durian (the king of fruits) increase your blood cholesterol level?

There is no cholesterol in durian as cholesterol is only produced in an animal's body, including us, human; but not produced in plants and fruits.

However, you need to be aware of durian being a rich calorie fruit.
One cup (serving) of durian, about, 243 grams contains 357 calories.
One durian fruit (about 602 grams) contains 885 calories.

Other than eating durian, you usually still have your daily meals; And normally, one lunch meal (e.g. One chicken burger+french fries+orange juice) may contain about 1000 calories, while one dinner meal may contain about 1000 calories too.

If your age is between 31 and 50 years old (Note: you can find an online calories calculator at http://www.nutrition.com.sg/ha/hacalcal.asp), you are recommended to get around 2000 calories from what you eat & drink per day.
Getting more calories than what is needed can lead to overweight/obesity which indirectly can increase blood cholesterole level. So, eating durian (especially if too much, too frequent and regular) would potentially result in accumulated excess of calories.

That is how durian can cause increase in the blood cholesterol level.

Hope that clarifies how durian can be harmful to our health.

Thursday, April 28, 2011

Penyempitan/Pembuntuan di Pembuluh darah Karotid

Pembuluh darah karotid berada di kanan dan kiri, bagian dalam leher, berfungsi mensuplai darah ke bagian otak, kepala, dan wajah. Penyempitan/pembuntuan di pembuluh darah karotid disebabkan oleh proses penimbunan lemak dan pengapuran di sepanjang saluran pembuluh darah tersebut. Proses ini dikenal sebagai aterosklerosis pembuluh darah karotid yang seringkali menjadi penyebab stroke dengan gejala seperti rasa tebal, kesemutan pada kulit di bagian tubuh tertentu, lemah otot tangan/kaki/wajah di satu sisi tubuh, gangguan dalam fungsi bicara, dan gangguan pengelihatan.

Yang berisiko tinggi mendapat kelainan pembuluh darah karotid tersebut adalah penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, lemak darah tinggi, kegemukan, dan perokok.

Untuk mendeteksi adanya kelainan di pembuluh darah karotid, pada tahap awal biasanya dilakukan ultrasound daerah leher untuk mengevaluasi derajat penyempitan/pembuntuan di pembuluh darah karotid. Tahap berikutnya diperiksa dengan Carotid Angiogram untuk memastikan keberadaan penyempitan/pembuluh darah karotid, menentukan risiko stroke, dan menentukan keperluan tindakan operasi kelainan di pembuluh darah karotid. Biaya pemeriksaan semacam ini di fasilitas kesehatan di Singapura sekitar S$1000.

Tujuan utama pengobatan kelainan pembuluh darah karotid adalah untuk mencegah timbulnya atau timbul ulangnya gejala stroke. Pemeriksaan (cek up) kesehatan lengkap perlu untuk mendeteksi faktor-faktor yang membuat seseorang berisiko tinggi mendapat kelainan pembuluh darah karotid. Faktor-faktor risiko yang terdeteksi perlu dikontrol, dikurangi dan kalau bisa dihilangkan sama sekali dengan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak, makanan berkadar garam tinggi, dan/atau makanan yang berkadar gula tinggi, olah raga teratur sesuai petunjuk dokter, menjalani program menurunkan berat badan, berhenti merokok, minum obat secara teratur (harus dengan petunjuk dokter!!), dan cek up kesehatan secara berkala termasuk pemeriksaan pembuluh darah karotid minimal satu tahun sekali.

Bilamana penyempitan/pembuntuan di pembuluh darah karotid lebih dari 70%, atau antara 50% & 70% dengan faktor-faktor risiko stroke yang tinggi, mungkin perlu dilakukan tindakan operasi untuk menghilangkan penyempitan/pembuntuan di pembuluh darah karotid. Operasi yang mereparasi bagian pembuluh darah yang menyempit, namanya Carotid Endarterectomy. Ada juga operasi yang dilakukan untuk melebarkan daerah penyempitan dan memasang “stent” (struktur cincin logam di dalam saluran pembuluh darah) untuk mencegah pembuluh darah kembali menyempit. Operasi ini namanya Carotid angioplasty dan stenting.

Wednesday, April 6, 2011

Prospek Pengembangan Retina Mata buatan dari Stem cells

"Stem cells" adalah sel tubuh yang mempunyai kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai macam jaringan/organ tubuh. Sel-sel semacam ini berasal dari beberapa sumber seperti dari jaringan plasenta, dan dari sumsum tulang. Baru-baru ini, tim peneliti dari Jepang mengumumkan keperhasilan eksperimen mereka dengan mengembangkan "Stem Cells" dari tikus percobaan menjadi jaringan retina mata yang mempunyai fungsi sangat vital untuk pengelihatan.

Retinis pigmentosa dan Age related Macular Degeneration (AMD) adalah dua kelainanan mata yang umum sebagai akibat kerusakan retina. Penelitian pengembangan "Stem cells" untuk menhasilkan suplai retina mata untuk transplantasi menggantikan retina yang rusak, merupakan berita yang bagus bagi penderita kelainan retina yang terancam kebutaan dan yang sudah buta.

Sumber berita: BBC Health report, 6 April 2011

Wednesday, October 20, 2010

Penanda-penanda Tumor dalam Darah (Tumour Markers)

Alfa Fetoprotein – AFP
AFP adalah suatu protein yang dibentuk dalam jaringan embrio dan hati janin. Pada orang dewasa normal kadarnya sangat rendah atau tidak ada ada sama sekali. Kadar AFP biasanya ditemukan tinggi pada penderita kanker hati dan kanker sel testis dan kanker indung telur. Kadar AFP biasanya juga tinggi wanita-wanita hamil; tapi hal ini normal. Pada wanita hamil, ketinggian kadar AFP tergantung perkembangan janin dalam kandungan. Karena itu, tes AFP dapat dilakukan pada wanita-wanita hamil untuk melihat kemungkinan adanya cacat bawaan pada janin.

Antigen Carcinoembryonic – CEA
CEA adalah suatu protein banyak ditemukan pada janin, dan biasanya tidak ditemukan atau hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat minimal pada orang dewasa. Protein ini diproduksi oleh beberapa macam sel-sel kanker termasuk kanker-kanker saluran cerna, pankreas, paru-paru, payudara, indung telur dan leher rahim. Jika kadar CEA ditemukan tinggi, tes sebaiknya diulang. Kenaikan kadar CEA dalam serum darah juga ditemukan pada penyakit yang bukan kanker seperti penyakit radang usus besar, sirosis hati, infeksi paru-paru, radang pankreas dan juga pada perokok. Memonitor kadar CEA ini juga bermanfaat untuk mendeteksi dini kemungkinan munculnya kembali atau penyeberan kanker.

CA 19-9 (Antigen Kanker 19-9)
Kadar CA 19-9 dalam serum darah ditemukan meningkat pada 80% penderita kanker pankreas, pada 54-89% penderita kanker lambung dan pada 64% penderita kanker-kanker usus besar. Kadang-kadang, kadarnya dalam serum darah juga naik pada penyakit-penyakit yang bukan keganasan seperti pada radang pankreas, fibrosis kista, radang usus besar, dan penyakit hati dan empedu. Akan tetapi, dalam kondisi-kondisi yang bukan keganasan tersebut, kadarnya tidak lebih dari 100 U / ml.

CA 125 (Antigen Kanker 125)
CA 125 adalah suatu glikoprotein yang diproduksi oleh sel-sel kanker indung telur. Kadar CA 125 di atas 35 ng / ml terdeteksi pada 20-40% penderita kanker indung telur stadium I & II, dan pada 96% penderita kanker indung telur stadium III dan IV. Kendati jarang, kadar CA125 dalam serum darah mugkin juga meningkat pada penderita kanker-kanker saluran cerna, payudara, leher rahim, dinding rahim bagian dalam, dan saluran kandung telur. Kadarny juga mungkin ditemukan meningkat pada kondisi – kondis yang bukan keganasan, seperti endometriosis dan peradangan lapisan dalam perut. Memonitor kadar CA 125 juga bermanfaat untuk mengetahui respon penderita kanker terhadap terapi yang diberikan dan mendeteksi kemunculan kembali sel-se kanker.

Prostate Specific Antigen - PSA
PSA diproduksi kelenjar prostat dan bermanfaat untuk mendeteksi adanya kanker prostat, juga untuk memonitor pertumbuhan kembali dan penyebaran sel-sel kanker. Normalnya, kadar PSA sangat rendah dalam serum darah. Peningkatan kadar PSA bisa juga ditemukan pada lkelainan-kelainanyang bukan keganasan, seperti pembesaran prostat, dan peradangan prostat.

CA 15.3 (Antigen Kanker 15.3)
Kadar CA 15.3 bilamana dimonitor bersama dengan diagnosa dan prosedur pemeriksaan kesehatan yang lain, bermanfaat untuk mengikuti perkembangan dan respon terhadap terapi yang diberikan untuk kanker payudara yang sudah menyebar.

EBV EA IgA
Tes EBV adalah dirancang khusus untuk membedakan penderita tumor nasofaring (tumour hidung-tenggorokan) dari pasien-pasien yang normal. Tingkat keakuratan dan kespesifikan dari test ini di atas 95%. Namun perlu diketahui bahwa untuk tujuan mendiagnosa penyakit, hasil tes yang positif harus dikorelasikan dengan hasil-hasil pemeriksaan klinis lain dan laboratorium. Sebaliknya, hasil tes yang negatif, tidak menyingkirkan kemungkinan adanya tumor hidung-tenggorokan.

Saturday, October 16, 2010

Operasi Penggantian Sendi Lutut

Penyebab paling banyak penyakit lutut adalah osteoarthritis. Kondisi ini merupakan peradangan sendi lutut sebagai akibat gesekan yang terjadi pada saat pergerakan sendi lutut, yang lambat laun dalam jangka panjang menyebabkan tulang rawan yang melapisi tulang sendi lutut tersebut terkikis, menipis, dan pada akhirnya menimbulkan nyeri serta radang sendi. Osteoarthritis kebanyakan dialami orang-orang yang berusia 55 tahun ke atas.

Operasi penggantian sendi lutut atau artroplasty lutut bisa dipertimbangkan bilamana kondisi tersebut menimbulkan nyeri, terutama pada saat melakukan aktivitas sehari-hari, atau bilamana kondisi tersebut tidak bisa diatasi secara tuntas dengan terapi obat-obatan maupun terapi non bedah lainnya.

Operasi lutut tersebut dilakukan dengan melapisi bagian sendi lutut yang bergesekan dengan lapisan logam dan plastik; Operasinya bisa melibatkan hanya sebagian (partial) dari persendian lutut maupun seluruh lutut bagian sendi lutut (total), tergantung kondisi lutut pasien dengan tujuan untuk mendapatkan hasil operasi yang paling memuaskan dalam jangka bagi pasien.

Dengan teknik operasi penggantian sendi lutut yang lebih canggih, hanya diperlukan satu irisan pada permukaan kulit dan jaringan di bawah kulit; dengan teknik ini, waktu operasinya hanya setengah lamanya dari pembedahan konvensional, dan penyembuhan luka operasi juga dapat lebih cepat dimana rata-rata pasien yang menjalani operasi penggantian sendi lutut partial, hanya perlu dirawat inap 1 hari 1 malam setelah operasi. Kebanyakan, setelah itu pasien segera bisa melakukan program rehabilitasi untuk pelatihan penggunaan sendi lutut setelah operasi tersebut.

Bilamana mempunyai kondisi seperti tersebut di atas, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter bedah tulang yang akan melakukan pemeriksaan lutut secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan dengan sinar rontgen, sebelum menentukan apakah operasi penggantian sendi lutut perlu dilakukan.

Friday, October 8, 2010

Trachelectomy Abdomen pertama di Singapore, suatu teknik operasi pada penderita penderita kanker leher rahim sementara mempertahankan fungsi rahim

Seorang Bankir Lisa Guit, 31 tahun, mungkin merupakan pasien pertama di Singapore yang sukses menjalani trachelectomy dengan mengambil leher rahim melalui dinding perut sementara tetap mempertahankan fungsi fertilitas rahim yang lengkap.
Leher rahim adalah bagian dari organ kandungan. Pada kasus kanker leher rahim yang diderita Lisa, biasanya seluruh bagian organ kandungan harus diangkat. Trachelectomy memungkinkan pengangkatan leher rahim saja, sementara kemampuan seorang wanita untuk konsepsi (mengandung bayi) tetap bisa dipertahankan.Teknik pembedahan yang tidak umum ini dimaksudkan untuk memelihara kesuburan seorang wanita ketika mengangkat leher rahim yang terkena kanker, dan telah berhasil dilakukan di Thomson Medical Centre, Singapura.

Trachelectomy dilakukan dengan operasi melalui dinding perut ketimbang melalui vagina. Singkatnya, pembedahan tersebut dilaksanakan sebagai berikut :
Langkah pertama , operasi dari bagian perut untuk melihat organ - organ di rongga panggul, saluran ureter (menghubungkan ginjal dengan kandung kencing), pembuluh darah rahim, leher rahim, dan kandung kencing.
Langkah kedua, pembuluh-pembuluh darah yang menjadi saluran darah utama ke rahim ditandai.
Langkah ketiga, bagian sebelah bawah leher rahim dipisahkan dari vagina, sementara dan bagian sebelah atas dari mulut rahim dipisahkan dari rahim.
Langkah keempat, rahim disambungkan langsung dengan bagian vagina sementara pembuluh-pembuluh darah rahim tetap dipertahankan.

Pada sebuah konferensi pers, Dr. Tay Eng Hseong, Spesialis Senior bagian Organ Kandungan di Thomson Medical Centre (TMC) Singapura mengatakan : “untuk pasien yang telah mengalami pengobatan dengan radiotherapy sebelumnya, kita cenderung untuk tidak merekomendasikan pembedahan ini karena tingginya tingkat kesulitan operasi sebab setelah terapi kanker dengan radiasi, jaringan-jaringan akan lebih keras, mempersulit pembedahan, dan resiko komplikasinya tinggi”. Tapi untuk dia melakukan operasi untuk kasus ini, setelah diminta oleh Miss Guit (pasien) yang mengetahui adanya prosedur ini dari informasi yang dia cari sendiri.

Wednesday, September 29, 2010

Paroxysmal Atrial Fibrillation

Atrial fibrilasi adalah kelainan irama jantung yang disebabkan aktivitas aliran gelombang listrik yang tidak teratur antara dua rongga jantung bagian atas jantung (atria). Aliran gelombang listrik yang tidak normal ini menyebabkan kedua rongga jantung tersebut berdenyut sangat cepat dan tidak terkoordinasi. Pada Paroxysmal Atrial Fibrillation, kelainan denyut jantung tersebut terjadi pada interval yang berbeda tapi tidak secara terus-menerus. Selama episode paroxysmal atrial fibrillation, jantung bisa berdetak sebanyak 175 kali per menit. Beberapa pasien merasakan jantungnya berdenyut sangat cepat dan tidak teratur. Hal ini yang disebut palpitasi (jantung berdebar).

Kontraksi atria yang terlalu cepat dan tidak teratur menyebabkan pengisian dua ruang jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh (ventrikel) tidak efektif. Akibatnya, pasien sering menunjukkan gejala sesak napas dan nyeri dada. Kelelahan, penurunan kemampuan untuk berolahraga, dan pusing juga sering terjadi. Atrial fibrilasi yang berat bisa menyebabkan pasien merasa cemas sampai kehilangan kesadaran/pingsan.

Penyebab paroxysmal atrial fibrillation seringkali tidak diketahui, tetapi resiko menderita penyakit ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia. 4% dari mereka yang berusia >65 tahun menderita atrial fibrilasi. Faktor risiko lainnya seperti adanya penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, dan berat badan yang sangat berlebihan. Beberapa kondisi di luar jantung juga dapat menyebabkan paroxysmal atrial fibrillation, seperti hormon tiroid/kelenjar gondok yang berlebihan, dan ketidakseimbangan kalium, kalsium, atau magnesium dalam tubuh. Dalam kasus ini, atrial fibrilasi atrium biasanya dapat diatasi bilamana kondisi yang mendasarinya diobati.

Diagnosa paroxysmal atrial fibrillation dapat dikonfirmasi dengan elektrokardiogram (EKG), yang merekam aktivitas listrik jantung. Kadang-kadang, ekokardiogram jantung (suatu tes yang menunjukkan gambaran jantung ketika sedang berdenyut) mungkin juga diperlukan.

Episode paroxysmal atrial fibrillation terjadi sebentar dan mungkin hanya berlangsung beberapa detik atau menit saja. Untuk mengkonfirmasi diagnosis ini, pasien mungkin perlu memakai EKG portable (yang bisa dipasang pada penderita dan bisa dibawa-bawa) terus menerus selama satu atau dua hari. Nama perangkat ini adalah monitor Holter. Perangkat yang serupa, yang disebut event monitor, dimana bilamana pasien mengalami gejala pasien bisa menekan tombol pada perangkat pembacaan EKG untuk merekam aliran listrik di jantung saat itu. Event monitor ini bisa dipakai selama beberapa bulan.

Kebanyakan pasien dengan paroxysmal atrial fibrillation tidak memerlukan pengobatan sama sekali,; terutama bila tidak mengalami gejala. Pasien mungkin disarankan untuk menghindari stress, karena lebih dari setengah penderitanya melaporkan bahwa stres sebagai pemicu nomor satu timbulnya episode fibrilasi.Hal lain yang biasanya disarankan untuk mencegah serangan, seperti menghindari konsumsi kafein, alkohol, dan nikotin karena zat-zat tersebut bisa menjadi pemicu gejala atrial fibrilasi. Obat golongan pseudoefedrin juga dapat memicu serangan dan harus dihindari juga. Pasien juga dianjurkan untuk berhenti merokok, karena rokok memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan penyakit jantung. Tekanan darah tinggi juga harus dikontrol untuk alasan yang sama.

Jika gejala mulai terjadi lebih sering, pasien dengan paroxysmal atrial fibrillation mungkin perlu untuk meminum obat-obatan yang dapat memperlambat denyut jantung menjadi kurang dari 80 denyut per menit. Kadang juga diperlukan obat anti aritmia untuk memperbaiki irama jantung yang abnormal.

Ada juga pilihan terapi yang bukan dalam bentuk obat untuk atrial fibrilasi. Yang paling umum digunakan adalah kardioversi listrik (suatu prosedur untuk mengubah irama jantung yang abnormal menjadi normal dengan pemberian arus listrik yang dikontrol).

Jika Anda memiliki salah satu faktor resiko di atas atau tanda-tanda dan gejala yang seperti tersebut di atas, berkonsultasilah dengan dokter Anda.

Wednesday, September 22, 2010

Apakah Diabetes atau Penyakit Kencing Manis itu?

Diabetes berarti terlalu banyak gula dalam darah. Makanan yang kita makan akan diubah menjadi glukosa dalam darah. Pada orang normal, insulin (suatu hormon yang diproduksi oleh suatu organ di daerah rongga perut, bernama pankreas) bekerja merangsang penyerapan, penggunaan dan penyimpanan glukosa ke dalam sel-sel tubuh kita. Pada penderita diabetes, tubuhnya tidak memproduksi cukup insulin atau insulin yang dihasilkan tidak bekerja secara efektif. Akibatnya, gula menumpuk di dalam darah, dan menyebabkan diabetes.

Diabetes termasuk salah satu dari 10 penyakit menahun yang paling banyak penderitanya. Diabetes dapat diderita oleh orang-orang pada segala usia. Namun 90 % terjadi pada orang yang berusia >40 tahun. Faktor risikonya meliputi:
* Keluarga dengan riwayat diabetes
* Kelebihan berat badan
* Gaya hidup tidak sehat, seperti kurang berolah-raga
* Usia >40 tahun
* Riwayat diabetes selama kehamilan
* Gangguan toleransi glukosa atau kadar gula darah puasa terganggu (kondisi pra-diabetes)
* Infeksi virus yang merusak pankreas

Saat ini belum ada terapi untuk penyembuhan diabetes. Namun, diabetes dapat dikontrol dan komplikasinya dapat dicegah.

Kebanyakan, awalnya, penderita diabetes tidak menunjukkan gejala; biasanya ditemukan menderita diabetes saat pemeriksaan kesehatan rutin oleh dokter. Satu atau beberapa gejala berikut mungkin dialami oleh penderita diabetes:
* Sering buang air kecil
* Sering haus
* Penurunan berat badan meskipun makan dengan baik
* Sering merasa lelah dan lemah
* Proses penyembuhan luka relatif lama
* Infeksi kulit
* Mati rasa atau terasa tebal pada tangan atau kaki
* Pandangan kabur

Jika Anda berusia >40 tahun, periksa gula darah Anda, setidaknya sekali setahun. Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut di atas, dan mempunyai tanda atau gejala tersebut segera berkonsultasi dengan dokter Anda.

Saturday, September 18, 2010

Kanker Ginjal

Kanker ginjal adalah kanker yang berasal dari jaringan ginjal itu sendiri.
Angka kejadian kanker ginjal cenderung meningkat pada saat ini, dimana hal-hal yang menyebabkan peningkatan kanker ginjal sendiri belum jelas. Seringkali kanker ginjal ditemukan secara tidak sengaja pada saat pasien sedang menjalani pemeriksaan untuk penyakit yang lain. Seiring dengan makin seringnya pemeriksaan imaging seperti dengan CT Scan, semakin banyak juga berbagai jenis kanker ginjal yang terdeteksi.
Resiko untuk terkena kanker ginjal meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Sementara, laki laki nampaknya lebih beresiko untuk menderita kanker ginjal dibandingkan dengan wanita.

Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala pada penderitanya. Tanda dan gejala yang bisa didapatkan bila kanker ginjal ini berkembang ke stadium berikutnya adalah :
* Terdapat sel darah merah di air kencing yang membuat kencingnya berwarna merah muda, merah, atau seperti warna cola
* Nyeri pinggang di daerah di bawah tulang rusuk belakang yang timbul terus menerus
* Berat badan turun
* Lesu, lemah
* Demam yang timbul-hilang

Test dan pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mendiagnosa kanker ginjal:
* Pemeriksaan darah dan kencing. Pemeriksaan ini dapat mengarahkan dokter kepada penyebab dari tanda dan gejala yang dirasakan penderitanya
* Pemeriksaan Imaging seperti USG, CT Scan, dan MRI. Pemeriksaan dengan Imaging dapat menunjukan lokasi dan bentuk kelainan pada ginjal.
* Biopsi. Pada kasus tertentu, dokter akan menganjurkan untuk dilakukan biopsi (mengambil sedikit jaringan yang dicurigai sebagai kanker ginjal). Pemeriksaan ini sangat diperlukan untuk memastikan diagnosa, untuk menghindari penanganan, yang sering kali dengan pembedahan, yang sia sia.

Setelah diperoleh kepastian bahwa memang kelainan yang diderita adalah kanker pada ginjal, tindakan berikutnya adalah menentukan sampai sejauh mana kanker ini berkembang/menyebar di dalam tubuh penderita. CT Scan atau pemeriksaan imaging lainnya sering dipakai untuk menentukan hal ini.

Dalam menentukan terapi yang sesuai, tim dokter bersama dengan penderita akan mempertimbangkan beberapa faktor seperti kondisi kesehatan penderita, stadium dari kanker itu sendiri, penyebaran dari kanker (bila sudah terjadi), dan dari pilihan penderita itu sendiri.

Pembedahan adalah tindakan yang paling sering dilakukan untuk penanganan kebanyakan kanker ginjal. Beberapa Jenis pembedahan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
* Membuang ginjal yang terkena tumor (Nephrectomy). Radikal Nephrectomy meliputi pengangkatan ginjal yang terkena tumor, sedikit jaringan sehat yang disekitar ginjal, dan kelenjar di sekitar organ bilamana perlu. Tindakan Nephrectomy ini bisa dilakukan dengan 2 cara:
- Open Surgery dimana dokter bedah akan mengangkat ginjal melalui irisan yang memanjang pada perut penderita.
- Laparaskopi dimana melalui beberapa irisan kecil di perut penderita , dokter bedah memasukkan kamera video dan peralatan bedah yang ukurannya sangat kecil. Dokter bedah melakukan nephrectomy dengan alat bedah mikro yang dapat dilihat melalui layar video.
* Nephron – Sparing surgery dimana hanya jaringan ginjal yang terkena kanker saja yang diambil beserta dengan sedikit jaringan yang normal disekitar kanker tersebut. jadi tidak seluruh ginjal yang diambil. Tindakan ini juga bisa dilakukan dengan 2 cara, open surgery dan laparoskopi. Tindakan nephron – sparing surgery ini dapat dilakukan apabila kankernya kecil dan/atau penderita hanya mempunyai satu ginjal.

Seseorang yang merasa mempunyai tanda-tanda dan gejala-gejala yang seperti tersebut di atas dan/atau merasa ada kemungkinan menderita kanker ginjal, sebaiknya segera menemui dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Monday, August 16, 2010

MITOS VS FAKTA berkenaan dengan KELAINAN-KELAINAN SISTEM PENCERNAAN

Mitos tentang luka lambung (“stomach ulcers”): Kelainan yang disebabkan oleh makan makanan pedas dan stress.
Faktanya: kebanyakan disebabkan oleh infeksi suatu jenis bakteri, Helicobacter pylori atau disebabkan oleh penggunaan obat-obatan anti nyeri /anti radang tertentu seperti aspirin, ibuprofen, or naproxen. Makanan pedas dan stress bukan penyebab utama, melainkan dapat memperburuk kondisi luka di lambung.

Mitos bahwa merokok mengurangi nyeri karena asam lambung (“heart burn”)
Faktanya: asap rokok dapat menyebabkan peradangan di kerongkongan, yang menambah nyeri karena asam lambung. Asap rokok juga menyebabkan katup pembatas antara kerongkongan dan lambung melonggar, yang menyebabkan naiknya asam lambung ke kerongkongan dan menyebabkan “heart burn”.

Mitos tentang obat cuci usus (“laxatives”): tidak berbahaya untuk mengatasi sembelit.
Faktanya: beberapa penelitian menunjukan penggunaan laxatives yang terlalu sering bisa melukai usus besar.

Mitos tentang liver cirrhosis (hati yang mengeras) hanya disebabkan oleh alkohol
Faktanya: alkohol hanya salah satu penyebabnya. Penyebab cirrhosis yang lain yang lebih umum di kalangan orang dewasa adalah hepatitis B, C, juga keracunan/kerusakan hati karena obat-obatan, bahan-bahan logam dari kontaminasi/pencemaran yang masuk ke tubuh, dan juga kerusakan hati sebagai komplikasi dari kegemukan dan diabetes.

Sunday, August 8, 2010

Infeksi Hepatitis C dan Penanganannya

Hepatitis C adalah peradangan hati akibat terinfeksi virus Hepatitis type C. Infeksi virus Hepatitis C virus adalah penyebab utama penyakit hati menahun, dimana kira-kira180 juta orang di dunia terinfeksi virus ini; 60%-70% dari mereka yang terinfeksi tidak menunjukan gejala sakit. Akibatnya kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus hepatitis C, dan tidak menyadari bahwa mereka bisa menyebarkan infeksi tersebut ke orang lain.
Sekitar 15%–25% orang yang terinfeksi virus hepatitis C tidak menderita penyakit hati menahun dan tubuhnya bisa bersih dari virus tersebut biarpun tanpa pengobatan; sementara sekitar 75%–85% dari orang yang terinfeksi virus tersebut pada akhirnya menderita penyakit hati menahun yang mana 5%–20% dari mereka mengalami kerusakan hati yang permanen (liver cirrhosis) setelah 20–30 tahun terinfeksi.

Sampai saat ini, masih tidak ada vaksinasi yang efektif untuk mendapat kekebalan dari infeksi virus hepatitis C. Seseorang terinfeksi virus ini bilamana ada virus hepatitis C yang masuk ke dalam tubuhnya, seperti saat menerima transfusi darah, saat menerima transplantasi organ dari orang lain, dan saat bayi dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi virus hepatitis C. Virus ini bisa dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium dari contoh darah seseorang yang terinfeksi virus hepatitis C 1-3 minggu sebelumya. Dalam 8-9 minggu setelah terinfeksi, biasanya sistem kekebalan tubuh orang tersebut akan membentuk antibodi untuk melawan virus hepatitis C. Karena itu, bahan anti-virus tersebut bisa terdeteksi dengan permeriksaan laboratorium 8–9 minggu setelah seseorang terinfeksi virus hepatitis C. Bilamana orang yang terinfeksi tersebut jatuh sakit, gejalanya bisa berupa badan panas, merasa lelah, sakit perut, kehilangan nafsu makan, mual, muntah-muntah, nyeri di persendian, warna kekuningan di kulit, kencing berwarna coklat kehitaman, dan/atau kotorannya berwarna gelap kehitaman. Bagi mereka yang jatuh sakit setelah terinfeksi virus hepatitis C, biasanya gejala sakitnya timbul dalam 2-24 minggu setelah terinfeksi.

Akan tetapi, kebanyakan orang baru mengetahui terinfeksi virus hepatitis C dari pemeriksaan darah yang menunjukan tanda-tanda adanya virus hepatitis C di dalam darah. Bilamana dari pemeriksaan laboratorium contoh darah orang tersebut juga menunjukan kadar alanine aminotransferase (ALT, juga dikenalkan sebagai SGPT, salah satu enzym yang diproduksi organ hati,) yang tinggi, berarti organ hatinya juga mengalami peradangan. Kendati, perlu juga diketahui bahwa kadar enzym ALT/SGPT pada orang yang terinfeksi virus hepatitis C bisa naik turun; sewaktu-waktu bahkan bisa kembali dalam batas normal sampai selama setahun sementara orang tersebut menderita penyakit hati menahun. Orang yang terinfeksi tersebut sebaiknya diperiksa lebih lanjut oleh dokter yang ahli dalam menangani penyakit hepatitis C, seperti spesialis penyakit infeksi, spesialis penyakit dalam, dan/atau spesialis sistem pencernaan.

Pengobatan umumnya dengan pegylated interferon (obat penguat sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus) and/atau ribavirin (obat anti-virus), untuk mencegah komplikasi atau kematian akibat infeksi virus hepatitis C. Efektivitas pengobatan ini diukur berdasarkan respon virus terhadap pengobatan, yang ditunjukan dengan tidak terdeteksi virus hepatitis C di pemeriksaan laboratoriumn contoh darah dari orang yang diobati tersebut setelah 24 jam pengobatan dihentikan.

Pemeriksaan genotip (struktur genetik) virus hepatitis C perlu dilakukan sebelum pengobatan untuk memprediksi kemungkinan respon virus terhadap obat yang diberikan dan untuk menentukan lamanya pengobatan. Sejauh ini, diketahui paling sedikit ada 6 genotip virus hepatitis C.
* Pasien dengan genotip 2 dan 3, punya kemungkinan 2 – 3 kali lebih besar untuk memberikan respon yang baik terhadap pengobatan dibandingkan pasien dengan genotip 1.
* Bilamana menggunakan obat kombinasi, pegylated interferon and ribavirin, untuk pasien dengan genotip 2 and 3, cukup diberikan selama 24 minggu; untuk pasien dengan genotip 1 dianjurkan diberikan selama 48 minggu; untuk pasien dengan genotip 4dianjurkan diberikan selama 36-48 minggu; sementara untuk pasien dengan genotip 5 dan 6, lama pengobatan yang optimalnya masih dalam penelitian.

Orang yang terinfeksi virus hepatitis C dapat melindungi organ hatinya dari kerusakan lebih jauh dengan menghindari minum minuman yang beralkohol yang bisa mempercepat terjadinya kerusakan hati yang permanen (cirrhosis). Juga sebaiknya konsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat-obatan dan/atau bahan-bahan suplemen berhubung jenis-jenis obat/bahan suplemen tertentu bisa menyebabkan kerusakan organ hati.

Sunday, July 11, 2010

SELAMAT TINGGAL "SUNKEN CHEST"

Anak-anak umumnya suka bermain bola dan bersenang-senang di pantai. Tidak demikian dengan Jason (bukan nama sebenarnya). Dalam masa pertumbuhannya, ia sering merasa susah bernapas dan sering menghindarkan diri dari kegiatan olahraga. Jason sering terlihat hanya menonton di samping lapangan.

Jason sekarang berumur 18 tahun. Ia menderita kelainan kongenital (kelainan bawaan sejak lahir), pectus excavatum. Kelainan ini membuat rongga dadanya tampak seperti penyok ke dalam. Kelainan ini dikenal juga dengan sebutan funnel chest atau sunken chest. Kelainan ini ditandai dengan depresi yang dalam pada sternum atau tulang dada, yang biasanya di setengah atau dua per tiga bagian sternum, dengan area yang dalam pada perbatasan rongga dada dan rongga perut.

Hal ini disebabkan karena pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan yang menghubungkan tulang rusuk ke rongga dada yang membuat perkembangan tulang dada masuk ke dalam.
Keparahan depresi dibedakan ringan sampai berat. Pada kasus yang ringan, gejala sesak napas baru dialami saat berolahraga. Sementara yang lebih berat, penderita sering bernapas pendek karena pertumbuhan tulang dada yang tidak normal ke dalam, mendesak paru-paru dan menekan jantung keluar dari posisi normalnya di rongga dada. Penderita ini membutuhkan tindakan bedah untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Kondisi ini diketahui diderita 1 dari 1000 orang, dengan ratio laki-laki dibanding perempuan 3:1.
Sebelumnya teknik yang diketahui untuk memperbaiki kelainan ini adalah operasi melalui pembukaan rongga dada, membuang tulang iga yang tumbuh tidak normal, dan memotong sebagian tulang dada untuk dipindahkan ke posisi normal. Tulang dada kemudian dilindungi oleh otot sekitar atau batang logam pendek dan dijahit.
Saat ini terdapat teknik baru, dikenal dengan prosedur Nuss. Berbeda dengan teknik lama, pada prosedur ini dilakukan tindakan seminimal mungkin sehingga efek sampingnya juga minimal. Pada teknik ini hanya dibuat irisan kecil diantara kedua dinding rongga dada. Dibantu thorascope (sebuah kamera kecil untuk memandu ahli bedah) yang diletakkan dibawah sternum, sebuah batang dibengkokkan sesuai bentuk yang diinginkan. Batang tadi kemudian ditarik ke dada untuk mengangkat sternum keluar dan melonggarkan tulang rusuk sebisa mungkin. Batang tersebut dibiarkan ditempatnya sekitar 2 tahun setelah itu dilepas, yang hanya membutuhkan waktu selama 30 menit saja.

Metode lama menyebabkan banyak kehilangan darah dan meninggalkan jaringan parut yang besar pada dada, menurut dr James Wong, ahli bedah jantung, paru dan pembuluh darah di Singapura. Namun dengan prosedur baru, tidak perlu memotong sebagian tulang dada maupun tulang rawan, sehingga hasilnya akan lebih bagus secara kosmetik.
Dr Wong telah melakukan teknik Nuss pada 3 orang pasien dan sejauh ini tidak ada komplikasi. Ia menganjurkan prosedur ini dilakukan sekitar usia 8-15 tahun dimana dinding dada masih elastis. Biaya pembedahan sekitar SGD 15.000 - 20.000 termasuk honor dokter dan biaya RS sekitar 5 hari perawatan.

Setelah Jason menjalani operasi dengan teknik baru tersebut, dia disarankan untuk tidak melakukan olahraga angkat berat selama 2 bulan dan sekarang dia sudah bisa tersenyum lebar. Kepercayaan dirinya perlahan kembali.
(Summarised by MediCALL Clinic & Health Centre)

Friday, June 11, 2010

Nyeri pasca Operasi Hernia Inguinal

Hernia di daerah selangkangan sebagian besar (sekitar 96%) adalah jenis hernia inguinal. Hernia jenis ini terjadi karena adanya bagian yang terbuka di daerah saluran yang dinamakan kanal inguinal di daerah selangkangan. Akibatnya organ dalam rongga perut, seperti usus, bisa turun ke daerah selangkangan melalui jaringan yang terbuka tersebut dan menimbulkan Hernia Inguinal.

Dalam operasi hernia yang menggunakan jaringan prostetik (yang dinamakan mesh) untuk menutup daerah saluran yang terbuka, dimaksudkan untuk mencegah turunnya organ dalam rongga perut ke saluran di daerah selangkangan tersebut dan mencegah timbulnya hernia lagi. Dengan teknik operasi ini, pasien umumnya sudah bisa kembali beraktivitas normal dalam kurun waktu 10 hari setelah operasi. Kemungkinan untuk hernia timbul kembali relative kecil, sekitar 3% atau kurang.

Akan tetapi, juga dilaporkan adanya beberapa kejadian dimana nyeri paska operasi berlangsung lebih lama. Bahkan 3-5% kasus dilaporkan ada pasien mengalami rasa nyeri yang permanen.

Nyeri paska operasi hernia inguinal dalam bahasa latinnya dinamakan Ingunodynia. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti berikut ini:

o Infeksi (catatan: biasanya disertai dengan demam)

o Peradangan sebagai reaksi dari keberadaan barang asing (contoh: jahitan, mesh, dll)di jaringan tubuh pasien (catatan: bisa ditandai dengan adanya kulit / jaringan yang berwarna kemerahan karena meradang dan/atau nampak membengkak)

o Hernia yang timbul kembali (catatan: biasanya nampak benjolan hernia kendati sebelumnya sudah dioperasi)

o Kerusakan persarafan sebagai akibat prosedur pembedahan hernia tersebut.

o Saraf terjepit oleh jaringan skar, jaringan prostetik (mesh) yang dipasang waktu pembedahan atau jahitan di daerah bekas pembedahan.

o Tumor saraf jinak yang dinamakan Neuroma yang tumbuh setelah operasi

o Pergeseran letak jaringan prostetik(mesh)yang di tempatkan untuk mencegah timbulnya hernia.

o Pengerutan jaringan yang terluka dari prosedur operasi

Catatan: beberapa ketidaknormalan yang tersebut di atas, mungkin tidak nampak dari luar; tapi bisa ditentukan berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan/atau dengan pemeriksaan imaging.

Penyebab pasti dari nyeri tersebut dan pengobatannya tidak bisa ditentukan secara pasti tanpa pemeriksaan fisik pasien. Kadang perlu didukung dengan pemeriksaan X-rays, MRI or CT scans untuk menentukan kemungkinan adanya penyebab nyeri lain yang tidak berkaitan dengan operasi hernia. Jadi bilamana setelah operasi hernia, pasien mengalami nyeri yang berkepanjangan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang merawat untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penyebab nyeri yang seperti tersebut di atas.

Tuesday, May 18, 2010

Sleep Talking

Sleep talking is the act of talking, mumbling, laughing or conversing during sleep. It is also called by the name somniloquy.

It's an abnormal but very common behavior that takes place during sleep. It is not usually considered a medical problem. That condition is very common in childhood and does occur in some adults. Fifty percent of children and about five percent of adults suffer from the disorder. Girls talk in their sleep as much as boys.

In itself, the condition is rather harmless. And usually treatment is not needed. However, if sleep talking occurs frequently and becomes profane, dramatic or emotional, a medical professional’s opinion and evaluation should be sought. This is when the sleeping disorder can be considered alarming. A thorough diagnosis should be carried out and the proper treatment measures be employed.

Things that can cause sleep talking include but not limited to certain medications, emotional stress, fever, and substance abuse.

There is no known way to reduce sleep talking. Avoiding stress and getting plenty of sleep might help to lessen occurrence of sleep talking. Keeping a sleep diary for about 2 weeks can help identify your sleep patterns and help find out possible underlying causes. Note the times you go to bed, when you think you fell asleep, when you woke up, and write down the following:
· the medicines you take, and the time of day you take them
· what you drink each day and when, especially caffeinated drinks such as cola, tea, and coffee, as well as alcohol
· when you exercise

Friday, October 16, 2009

Leukoencephalopathy (brain white matter changes)

Leukoencephalopathy (brain white matter changes) is caused by the reactivation of a common virus in the central nervous system of individuals with lowered immune defenses, such as individuals with acquired immune deficiency syndrome (AIDS); people undergoing chronic corticosteroid or immunosuppressive therapy; and individuals with cancer. This disorder may be associated with neurofibromatosis type 1 that can also develop cancer. Other clinical studies eported that leucoencephalopathy can also be due to gene mutation.
The symptoms of leucoenecephalopathy are the result of loss of white matter (which is made up of myelin, a substance the surrounds and protects nerve fibers) in multiple areas of the brain. Without the protection of myelin, nerve signals can’t travel successfully from the brain to the rest of the body. The most prominent symptoms are clumsiness; progressive weakness; and visual, speech, and sometimes, personality changes. In general, the progression of deficits leads to life-threatening disability and death over weeks to months, although some survive till adult age left with severe neurological disabilities. People with this disorder are particularly vulnerable to stresses such as infection, mild head trauma or other injury, or even extreme fright. These stresses may trigger the first symptoms of the condition or worsen existing symptoms, and can cause affected individuals to become lethargic or comatose.

Tuesday, October 13, 2009

Neurofibromatosis Type 1

Neurofibromatosis type 1 (NF1) is a progressive disorder, which means most symptoms will worsen over time. In general, most people with NF1 will develop mild to moderate symptoms, and have a normal life expectancy.

The condition is caused by mutation of gene that could result in overactive cell growth, learning impairments, and skeletal defects. Clinical manifestations of neurofibromatosis type 1 may vary greatly in range and severity from case to case, Some findings are as follows:
· flat patches on the skin that are darker than the surrounding area. These spots increase in size and number as the individual grows older.
· noncancerous (benign) tumors, named neurofibromas that are usually located on or just under the skin. These tumors may also occur in nerves near the spinal cord or along nerves elsewhere in the body. Some (3-5%) develop cancerous tumors that grow along nerves, and/or develop other cancers, including brain tumors and cancer of blood-forming tissue (leukemia).
· episodes of seizures, learning disabilities (50% of children with the condition), speech difficulties, attention deficit hyperactive disorders, and skeletal malformations, including progressive curvature of the spine (scoliosis), and bowing of the lower legs.
· high blood pressure

Treatments for the condition are aimed at controlling or relieving symptoms. Headache and seizures are treated with medications. Benign tumours may be removed surgically. Cancerous tumours may be treated with surgery, chemotherapy, and/or radiotherapy.

Thursday, October 8, 2009

Small Bowel Obstructions

Small bowel obstruction, a mechanical bowel blockage arising from a structural abnormality, presents a physical barrier to the progression of gut contents. Patient of such a condition may then experience abdominal pain, bloating, and vomiting. Small-bowel obstructions can result from a variety of causes. Peritoneal adhesions are the most common cause of Small Bowel Obstruction (SBO) accounting for approximately 65% to 75% of cases. It is estimated that the risk of SBO is 1% to 10% after appendectomy, 6.4% after open cholecystectomy, and 10% to 25% after intestinal surgery. It is also estimated that 93% to 100% of patients who undergo transperitoneal surgery will develop postoperative adhesions. Most patients with adhesions do not experience any overt clinical symptoms. However, clinical symptoms may manifest when complication resulting from the adhesions are eventually developed.

Bowel obstruction may take many years to develop after abdominal/transperitoneal surgery. A clinical study reported that 21% of bowel obstructions caused by adhesions occur within the first month after surgery, 18% of bowel obstructions caused by postoperative adhesions occur between 1 month and 1 year after surgery, 21% occur between 1 and 5 years and 28% occur after 5 years.

About peritoneal adhesions, they are scar tissues forming abnormal attachments between organs or tissues or both in the abdominal cavity that are normally separated. Most are acquired as a result of peritoneal injury, the most common cause of which is abdomino-pelvic surgery.4 Less commonly, adhesions may form as the result of inflammatory conditions, intraperitoneal infection or abdominal trauma. The extent of adhesion formation varies but is most dependent on the type and magnitude of surgery performed, as well as whether any postoperative complications develop.

Friday, October 2, 2009

Myoma or Uterine Fibroid

Myoma or Uterine Fibroids are noncancerous tumours that grow slowly within the muscular wall of the womb (also known as uterus in medical term). It is estimated that 25% of women over the age of 35 have fibroids at some time during their life. One clinical study using pelvic ultrasound in women in the U.S. ,with no symptom aged 35-49, found that over 50% of women did have fibroids on pelvic ultrasound exam. Small fibroids may not cause problems, but larger ones may cause prolonged/heavy menstrual bleeding, abdominal pain during menstruations, infertility or recurrent miscarriages. Fibroids may also press on the bladder, causing a need to pass urine often, or on the rectum, causing low back pain. Generally fibroids do not need treatment when they are not symptomatic. However, they should be checked regularly by your doctor to make sure that they have not grown. If treatment is necessary, fibroids may be removed surgically. Some fibroids are treated using an injection of a substance that blocks the blood vessels supplying them, causing the fibroids to shrink.

Friday, September 25, 2009

Endometriosis

Endometriosis is a condition in which the tissue (named “endometrium”), that is normally lining the womb, grows outside the womb and attaches to other organs. Mostly organs in the pelvic area including ovaries, outer surface of womb, bowels, and bladders, are affected; but endometriosis has also been found in the lungs, the brain and even on arms and thighs. The condition afflicts over 70 million women and girls throughout the world, knowing no racial or socio-economic barriers, and affecting women ranging from adolescence to post-menopause.
During the menstrual cycle the thickness of the endometrium increases in readiness for the fertilized egg. If pregnancy does not occur the lining is shed as a 'period'. Similarly, in each menstrual cycle, endometrium that grows outside of the womb, is also built up and then breaks down and bleeds in the same way as the lining of the womb. Such internal bleeding may lead to inflammation, pain, and formation of scar tissues in organs outside of the womb.
Endometriosis is not an infection, not contagious, and not cancer either. Of the theories, the most widely accepted is retrograde menstruation. According to this theory some of the menstrual blood flows backwards down into the pelvis.
The considerations about what type of treatment should depend on age, severity of the symptoms, desire to have children, and severity of the condition. Painkillers, like aspirin, may help relieving the pain. Hormonal treatment designed to interfere with ovulation generally provides effective pain relief, but the recurrence rate following cessation of therapy is high, and this type of treatment will contradict with the woman’s pregnancy. Surgical treatment provides pain relief, improves pregnancy rates, and is the preferred initial treatment for infertility caused by endometriosis. Removal of the womb, ovaries, and all growths is a radical surgery for patients with intractable pain, if childbearing is no longer desired. Complementary therapies, such as acupuncture, aromatherapy, herbal therapy, and nutrition have not been clinically proven to treat endometriosis. However, many women do have improvement of their symptoms whilst using such therapies. It is probably wise to seek help from a qualified practitioner and not self medicate.
 

Web Site Hit Counter